Oct
14
2015
0

Eternal Fire Kebakaran Hutan Riau

Eternal Fire

Kebakaran Hutan di Riau

ditulis oleh : Eka Buyung Lienadi

13 Oktober 2015

persebaran api

persebaran api

Kebakaran hutan di Riau dan daerah sekitarnya menjadi sebuah topik panas yang gemar diliput di media massa sekarang ini. Kebakaran hutan yang sudah bermula sejak September 2015 belum berhasil dipadamkan oleh pemerintah Indonesia. Menurut data BPNB, kerugian negara sudah melebihi Rp 20 T. Padahal kejadian ini sudah terjadi berulang kali terjadi sejak 2009.

 

Apa penyebab kebakaran hutan Sumatera?

Kebakaran hutan muncul pada  musim kemarau setiap tahunnya. Kebakaran menjadi hal yang lumrah ketika suhu udara di Indonesia meningkat dan curah hujan semakin kecil. Pada musim kemarau pun bencana kekeringan sudah menjadi hal yang normal setiap tahunnya.

 

Akan tetapi, telah terjadi kasus bahwa hutan di Sumatera telah dibakar. Hal ini telah terbukti dengan penahanan 23   orang tersangka pembakaran hutan pada tahun 2013. Tahun 2015 ini pun panglima TI, Gatot Nurmayanto, telah menginstruksikan 1150 prajurit TNI untuk melakukan pemadaman kebakaran hutan sekaligus tindakan polisioner (tindakan untuk menahan tersangka kasus pembakaran hutan). Diduga momen kemarau dimanfaatkan perusahaan swasta industri kayu sebagai alasan untuk melakukan ‘pembersihkan lahan’. Pembakaran hutan merupakan metode yang lebih efisien dan cepat dibandingkan dengan memperkerjakan orang untuk memangkas hutan. Oleh karena itu, perusahaan industri hasil hutan seperti perkebunan kelapa sawit menjadi ‘tersangka’ utama dalam kasus pembakaran hutan. Namun sampai sekarang belum berhasil diperoleh bukti yang cukup mengenai ‘dalang’ pembakaran hutan di Sumatera.

 

Mengapa Perusahaan Kelapa Sawit menjadi ‘tersangka’?

Bisnis kelapa sawit menjadi bisnis yang menggiurkan di indonesia. Sejak awal diperkenalkan di indonesia pada tahun 1911, bisnis kelapa sawit terus berkembang. Perkembangan kelapa sawit terus melonjak mulai tahun 1980. Luas lahan perkebunan sawit pada 1980 yaitu 290.000 hektare, melesat menjadi lebih dari 9 juta hektare pada 2012. Indonesia menjadi penghasil CPO (crude palm oil) terbesardi dunia yaitu 24 juta ton per tahun. Hanya 5 juta yang dikonsumsi di dalam negeri dan sisanya diekspor ke luar negeri. Bisnis ini menjadi penghasil devisa terbesar negara kita setelah oil and gas yaitu sekitar USD 20 juta per tahun. Selain itu tingkat permintaan akan CPO selalu meningkat setiap tahunnya termasuk permintaan dari dalam negeri yaitu 5,5 % per tahun.

Akan tetapi, akibat dari bisnis yang sangat menguntungkan yaitu banyaknya pelaku bisnis dan kerusakan tanah. Banyaknya pelaku bisnis mengakibatkan semakin banyak lahan yang perlu dikonversi menjadi perkebunan kelapa sawit. Konversi lahan memerlukan cost. Metode paling murah dan cepat yaitu dengan pembakaran hutan yang menjadi hot issue sekarang ini. Permasalahan yang kedua yaitu kerusakan tanah. Tanaman sawit merupakan tanaman yang dapat merubah kadar nitrogen dalam tanah. Pengolahan minyak sawit pun mempengaruhi kelangsungan hidup mikroba penyubur tanah. Kerusakan tanah yang tidak dapat dihindari ini memaksa pelaku bisnis untuk selalu mencari lahan baru untuk dikonversi dan dieksploitasi.

 

Apa dampaknya?

  1. Aktivitas publik terhambat

Aktivitas sehari-hari seperti sekolah, bekerja, kegiatan ekonomi, dll. Menjadi terhambat akibat kabut asap dari kebakaran hutan Riau. Kabut asap menghalangi jarak pandang manusia. Hal ini menyebabkan berkendara menjadi suatu hal yang berbahaya. Bandara Internasional Sultan Syarif kasim II di Pekanbaru pun terhambat. Operasi terpaksa dihentikan dan 16 maskapai penerbangan serta PT Angkasa Pura mengalami kerugian. Kabut asap ini pun sempat menghambat perjalanan Presiden Joko Widodo menuju Pekanbaru.

 

  1. Asap berbahaya

Tingkat bahaya dari asap di Riau pun sudah mencapai tingkat ‘Berbahaya’. Tingkatan ini sudah merupakan tingkatan yang tidak wajar dan harus segera ditangani oleh pemerintah. Beberapa kasus ISPA sudahterjadi di Pulau Sumatera. Sedihnya, pelajar diperbolehkan bersekolah dalam tingkatan asap ‘sangat tidak sehat’. Walaupun tidak diizinkan untuk bersekolah pada kondisi ‘ berbahaya’.

 

Kabut asap dari kebakaran hutan mengandung gas CO2. Gas ini merupakan racun bagi tubuh manusia. Informasi yang berhasil didata tercatat lebih dari 53.553 kasus penyakit di Riau. Lebih dari 4 ribu jiwa mengidap penyakit mata dan kulit oleh karena asap. Selain itu terdapat korban yang terserang penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) seperti sesak napas, asma, paru-paru, bahkan juga penyakit jantung. Asap ini pun telah menelan 1 korban jiwa.

 

  1. Hubungan bilateral terancam

Kabut asap sudah merambah hingga negara Singapura dan Malaysia. Pemerintah Malaysia pun sudah mengeluarkan himbauan keras bagi pemerintah Indonesia untuk menindaklanjuti masalah kebakaran hutan dengan serius pada tahun 2015 ini. Dikhawatirkan hubungan bilateral negara Indonesia dengan negara yang menjadi korban kabut asap merenggang hanya akibat dari kelalaian manusia Indonesia.

persebaran kabut asap hingga luar negeri

persebaran kabut asap hingga luar negeri

 

  1. Asap CO2 menyebabkan global warming

Indonesia menjadi salah satu negara dengan laju deforestasi terbesar di dunia. Tingkat produksi oksigen semakin berkurang dengan berkurangnya jumlah pohon sebagai penghasil oksigen dan penyerap CO2. Asap dari kebakaran hutan mengandung CO2 yang mempengaruhi terjadinya efek rumah kaca.

 

  1. Dampak sosial dan ekonomi

Kepercayaan masyarakat terhadap pemerintah semakin berkurang dengan semakin lamanya usaha menyelesaikan krisis kebakaran hutan. Masyarakat menjadi resah karena usaha ekonomi mereka tidak berjalan dan kesehatan mereka terancam. Di sisi pemerintah, dana yang sudah dikeluarkan untuk menyelesaikan krisis juga tidak kecil.

 

Apa Solusinya?

        Suatu permasalahan harus diberantas dari akar permasalahanyya. Jika tidak, suatu masalah berubah menjadi masalah berulang atau menjadi masalah yang semakin parah. Selain itu ada pepatah “lebih baik mencegah sebelum mengobati”, lebih baik rakyat Indonesia mencegah kebakaran sebelum berusaha memadamkannya. Seperti yang telah disebutkan kerugian dari kebakaran sudah mencapai lebih dari Rp 20 T. Rakyat Indonesia harus memikirkan solusi preventif yang efektif.

 

Solusi seperti mempersulit izin usaha ataupun pemberian sanksi bagi pembakar hutan sudah dilakukan oleh pemerintah tetapi hasilnya belum memuaskan. Banyak pejabat negara dari bagian administrasi, perizinan, hingga kepolisian sudah terindikasi menerima suapan dari perusahaan terkait kebakaran. Oleh karena itu, diperlukan solusi baru.

 

Selama ini metode pencegahan selalu ditekankan pada metode hukuman. Sudah saatnya Indonesia mencoba metode reward and punishment. Metode reward diperuntukkan bagi pejabat negara yang dapat membuktikan dirinya menolak suap untuk suatu tujuan buruk, bagi polisi hutan atau masyarakat yang melaporkan atau mencegah terjadinya pembakaran hutan, dan bagi pembakar hutan yang mau melaporkan ‘dalang’ yang menyuruhnya membakar hutan. Tentunya metode reward saja tidak cukup. Kita tetap perlu melaksanakan metode punishment. Usaha polisioner seperti yang diungkapkan Kepala TNI, Gatot Nurmayanto, seharusnya dilakukan juga bagi para pejabat di wilayah Riau dan sekitarnya. Tindakan polisioner bukan dalam arti penangkapan, tetapi penyelidikan pejabat negara di wilayah Sumatera.

 

Melihat kondisi kebakaran hutan di Sumatera beberapa tahun terakhir, sudah saatnya pemerintah bertindak tegas. Bila perlu, perizinan untuk penciptaan perkebunan kelapa sawit bagi pihak swasta dihentikan. Tentunya penciptaan perkebunan kelapa sawit oleh pihak negara juga harus dibatasi. Walaupun kelapa sawit merupakan salah satu sumber devisa negara, perlu dilihat pula jumlah kerugian Negara Indonesia akibat kebakaran. Kerugian pun tidak hanya berhenti pada biaya, tetapi menjadi masalah jangka panjang bagi kesehatan masyarakat dan pergerakan ekonomi daerah Sumatera. Negara Indonesia sebagai negara demokrasi harus mengutamakan rakyatnya. Adanya larangan alih fungsi hutan menjadi perkebunan kelapa sawit tidak akan mengurangi devisa negara secara signifikan. Lahan yang sudah lebih dari 6,3 juta hektare sei-Indonesia dimanfaatkan sebagai perkebunan sawit, dapat terus digunakan. Larangan alih fungsi lahan pun memudahkan pejabat negara seperti kepolisian atau KPK untuk melakukan inspeksi, pengawasan, dan penyelidikan.

 

Dengan begitu, diharapkan kebakaran hutan dapat dicegah dan Indonesia dapat menjadi semakin makmur dengan tetap bangga akan kelestarian lingkungannya.

 

Penutup

Indonesia sekarang sedang dilanda musibah kebakaran hutan. Banyak dampak  telah membawa duka bagi rakyat dan negara. Dipercaya sebagian besar kebakaran disebabkan pihak tak bertanggung jawab. Namun, kita sebagai rakyat Indonesia harus berpikir cerdas, kritis, dan inovatif. Tulisan di atas hanya menggambarkan suatu opini. Kita, rakyat Indonesia, tidak boleh hanya berpikir tentang masalah tetapi harus berpikir pada solusi. Tentunya penyebab kebakaran hutan bukan seluruhnya akibat hutan kita dibakar. Semoga tulisan saya ini dapat mengembangkan wawasan pembaca dan menggerakan hati saudara untuk menjaga kelestarian lingkungan kita.

Save Indonesia!

Hidup Alamku!

Jaya Indonesiaku!

 

 

 

Sumber

http://daerah.sindonews.com/read/756021/24/polisi-telah-tangkap-23-pelaku-pembakar-hutan-di-riau-1372664814

 

http://www.kompasiana.com/wardhanahendra/karena-kelapa-sawit-hutanku-makin-sakit_54f84017a33311cf5d8b4a25

 

http://www.cnnindonesia.com/nasional/20151001162312-20-82174/bnpb-kerugian-negara-akibat-kebakaran-hutan-melebihi-rp-20t/

 

http://www.kompasiana.com/roziqinmatlap/kelapa-sawit-potensi-indonesia-yang-mendunia_552fd98d6ea83460518b4569

 

http://www.antaranews.com/berita/423625/16-maskapai-hentikan-penerbangan-akibat-asap-riau

 

http://lem.fkt.ugm.ac.id/2014/03/dampak-kebakaran-riau/

Oct
14
2015
0

Blackhole Dan Konsep “Apakah cahaya punya massa?”

Blackhole

Dan Kebingungan konsep

 “Apakah cahaya memiliki massa?”

 

ditulis oleh :Eka Buyung Lienadi

1 Oktober 2015

 

Blackhole menghisap cahaya

Blackhole menghisap cahaya

 

Salam Peneliti Muda,

Kali ini saya ingin mengungkapkan opini saya tentang fenomena blackhole (lubang hitam) dan pertanyaan yang ada dalam benak saa yaitu “Apakah cahaya punya massa?” Tetapi sebelumnya mari kita jelajah pengertian dari blackhole.

 

  • Apa itu Blackhole?

Banyak terdengar di masyarakat bahwa blackhole merupakan lubang hitam di angkasa yang menghisap segala hal dan tidak bisa diketahui (manusia) yang dihisap itu akhirnya pergi entah ke mana. Penjelasan itu sebenarnya cukup benar, tetapi saya telah memperoleh suatu informasi. Jika ada manusia yang tersedot ke dalam blackhole maka tubuhnya akan terpilin layaknya menjadi selembar kertas bahkan sebelum sampai di pusatnya. Hal ini diakibatkan gaya gravitasi blackhole yang sangat besar!

  • Pembahasan

Blackhole adalah ‘sesuatu’ di luar angkasa yang memiliki gaya gravitasi sangat kuat hingga cahaya pun akan tersedot ke dalamnya. Blackhole terbagi menjadi 3 jenis berdasarkan ukurannya yaitu mini,stellar, dan supermassive. Mini yaitu blackhole dengan ukuran terkecil yaitu hanya sebesar sebuah atom tetapi massanya sama dengan massa matahari. Stellar yaitu blackhole dengan ukuran kurang lebih sama dengan matahari tetapi memiliki massa hingga ribuan kali massa matahari. SUPERMASSIVE memiliki ukuran sebesar satu sistem tata surya dengan massa jutaan kali massa matahari.

 

Sekarang apa hubungan massa blackhole dengan gaya gravitasinya yang besar? Jika kita tinjau dari rumus fisika, kita tahu bahwa besar gaya gravitasi dirumuskan dalam     (g= gaya gravitasi, G=konstanta, M=massa planet, R= jarak pusat planet ke titik yang dikenai gaya gravitasi). Singkat kata, semakin besar massa benda, semakin besar pula gaya gravitasinya.

 

Mengapa blackhole dapat memiliki masssa yang sangat besar? Hal itu disebabkan oleh massa blackhole seperti terpadatkan (compressed) pada satu titik kecil. Dapat dikatakan massa jenis dari blackhole luar biasa besar.

 

  • Dari mana asal usul Blackhole?

Blackhole berasal dari bintang yang mati. Bintang mati adalah bintang yang meledak akibat umurnya yang sudah terlalu lama (terjadi supernova).  Bintang yang meledak menjadi supernova akan menyebarkan unsur-unsur pembentuk planetnya ke segala tempat dan ada yang dapat membentuk blackhole.

 

Tetapi hal ini dipercaya ilmuwan tidak berlaku untuk blackhole untuk jenis supermassive. Hal ini dikarenakan ukurannya yang luar biasa besar maka untuk pembentukannya dibutuhkan suatu bintang yang ukurannya luar biasa besar. Sebagian ilmuwan berpikir bahwa supermassive sudah terbentuk sejak awal galaksi terbentuk. Akan tetapi hal ini belum terbukti dan mungkin saja pada masa yang akan datang akan ditemukan hasil lain.

 

  • Apa bumi akan aman dari blackhole? Apa matahari dapat berubah menjadi blackhole?

Ilmuwan memperkirakan untuk waktu dekat matahari tidak mungkin berubah menjadi blackhole karena ukurannya masih terlalu kecil. Tentunya bintang selalu bertambah besar hingga matahari akan menjadi supernova tetapi hal itu memakan waktu hingga miliaran tahun.

 

Selain itu, blackhole tidaklah bergerak. Blackhole konstan berada di tempatnya.

 

Jadi, bumi aman . Save and Sound.

 

  • Bagaimana cara ilmuwan dapat mengetahui adanya blackhole?

Blackhole tidak terlihat dengan mata telanjang manusia. Mengapa? Karena mata manusia bekerja dengan menerima pantulan cahaya dari suatu objek sedangkan blackhole menyerap cahaya.

 

Ilmuwan mengamati blackhole dengan melihat keadaan di sekitar blackhole, seperti cahaya yang dibelokkan dan gas-gas di sekitar blackhole. Tetapi sekarang ilmuwan juga sudah menemukan teleskop yang dapat mengetahui posisi blackhole.

 

  • Apakah cahaya mempunyai massa?

Saya akan menuliskan pendapat saya terlebih dahulu. Adanya fakta bahwa gaya gravitasi blackhole dapat menyedot cahaya menunjukkan bahwa seakan-akan cahaya mempunyai massa. Hal ini dapat ditunjukkan dari rumus fisika sederhana yaitu

W = gaya berat

M = massa

G  = percepatan gaya gravitasi

Rumus itu menunjukkan gaya yang dapat “menghisap” cahaya akibat massa cahaya dikalikan dengan gaya gravitasi. Sedangkan gaya gravitasi dirumuskan dengan   dengan: (M = massa blackhole).

 

Kesimpulan dari hipotesis saya:

  1. Blackhole memiliki gaya gravitasi (gaya tarik).

Namun hal ini sudah jelas karena blackhole dapat menghisap berbagai benda di luar angkasa.

  1. Cahaya mempunyai massa.

 

 

Akan tetapi,  saya mendapati bahwa cahaya tidak mempunyai massa. Cahaya bisa mempunyai momentum dan energi, tetapi tidak mempunyai massa. Hal ini berdasar dari hasil penemuan de Brogile dan Einstein.

 

Ternyata pertanyaan saya juga diperdebatkan oleh banyak orang. Ada yang berdebat dari fakta bahwa cahaya mempunyai energi dan adanya rumus Einstein yaitu . Tetapi tentunya belum ada orang yang dapat memberikan jawaban pasti karena rumus einstein belum sepenuhnya terbuktikan. Selain itu kita mengetahui bahwa cahaya merambat lurus di bumi. Hal ini menunjukkan gaya gravitasi bumi tidak membelokkan cahaya dan menunjukkan cahaya tidak mempunyai massa. Cahaya hanya berupa gelombang elektromagnetik (dan foton). Jadi, sebenarnya hal ini masih merupakan misteri bagi umat manusia dan semoga ada yang bisa membuktikannya segera.

 

Ada satu penemuan unik yaitu keadaan “ cahaya terperangkap”. Jika kita memiliki kotak yang bagian dalamnya 100% cermin, dan kita berhasil memerangkap cahaya di dalamnya. Maka massa kotak itu akan menjadi lebih berat dari keadaan kotak itu pada waktu kosong. Hal ini bukan disebabkan cahaya memiliki massa. Akan tetapi akibat energi yang dimiliki cahaya ikut menyumbangkan tambahan massa pada kotak tersebut.

 

Inilah hasil searching dan pikiran saya tentang blackhole dan misteri massa cahaya. Semoga bermanfaat dan bisa menjadi inspirasi untuk mengembangkan iptek khususnya iptek Indonesia. Terima kasih  sudah membaca.

 

Sumber:

  1. Wikipedia
  2. www.nasa.gov
  3. desy.de

 

Powered by WordPress. Theme: TheBuckmaker